-mengintip senja dari balik gunung salak-
-
gambar diambil oleh imam wahyudi dari desa tugu utara, puncak, pada sabtu, 24 maret 2007, jam 18:00 wib-

===========================================================

Paintball Game
Team DELTA FORCE melakukan briefing sebelum bertempur.
APCO Worldwide, pada 24 Maret 2007, menggelar acara Paintball Game silaturahmi dengan media cetak dan elektronik bertempat di Brigade 3234, Jalan Gunung Putri Utama II, Cibinong.
Klik disini untuk melihat foto lainnya:
foto-foto: oleh imam wahyudi
===========================================================

Catatan Gunung Gede 2
“(Jangan) Tinggalkan Aku Di Puncak Gunung …”
(Oleh : Febry Mahimza / febry@majalahtrust.com)

Sore menjelang magrib. Rinai hujan memaksa kami untuk segera berkemas dan turun dari puncak Gunung Gede. Belum hilang rasanya lelah di badan setelah 2 hari lamanya mendaki gunung –yang bagi pendaki sejati dianggap sebagai tempat latihan dasar- ini. Bahkan, keindahan puncak Gunung Gede yang masih mengeluarkan asap belerang dari dasar kawahnya, rasanya juga belum menuntaskan rasa lelah itu. Dengan berat hati, kami harus menyudahi ekstasi yang sungguh tak terkira itu. “Kalau gak turun sekarang, ntar gak ketemu jalan turunnya,” ujar Bontel setengah berteriak untuk melawan hujan yang mulai turun.>>readmore

===========================================================

Tersesat, Kedinginan, Kelaparan, Lalu............?
Sebuah pertanyaan tentang kematian untuk Haerul Antoni, dkk
(oleh daye iblis / penikmat suasana pegunungan)

Kebon Sirih, 13 Maret 2007.
Gunung Rinjani kembali menelan korban. Tujuh orang pendaki ditemukan tewas. Mereka ditemukan di kilometer 11 daerah Pelawangan yang memiliki ketinggian 2.639 meter. Udara dingin, kehabisan makanan dan terjebak cuaca buruk menjadi penyebab kematian Haerul Antoni dan kawan-kawan. Padahal, saat mayat-mayat mereka ditemukan, Gunung setinggi 3.726 mdpl itu dalam kondisi tertutup untuk pendakian sejak 1 Januari – 31 Maret 2007, dengan alasan sudah masuk musim penghujan dan sering terjadi badai dan longsor.
>>readmore

===========================================================

Berziarah ke Istana Ratu Jin
(Oleh: Tim Lion Air-TRUST, Foto-foto: Imam Wahyudi)

Sudah saatnya orang tak menjadikan Pulau Lombok sebagai tujuan wisata nomor dua setelah Bali. Apalagi, di provinsi Nusa Tenggara Barat itu berdiri angkuh kawasan wisata bereputasi internasional: Taman Nasional Gunung Rinjani.

Minggu, 7 Januari 2007, satu jam menjelang azan subuh, penduduk Desa Sembalum Lawang masih terlelap di peraduannya. Nun di kejauhan, kabut menutupi puncak Gunung Rinjani. Pos pendaftaran (pusat informasi) gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu juga terkunci rapat. Kami yang baru saja tiba dari perjalanan jauh (Jakarta-Mataram-Sembalun Lawang) segera mengamati keadaan sekeliling. Tiba-tiba, dengan setengah berteriak, salah seorang dari kami memanggil kami untuk segera membaca sebuah pengumuman yang ditempel di pintu pos. Isinya: mulai tanggal 3 Januari 2007 Gunug Rinjani tertutup untuk pendakian. >>readmore

Catatan Pendakian G. Semeru, Nov 2004
Kunang-Kunang di Semeru
(Oleh; Bonny Dwifriansyah)

Kebayoran Lama.
Malam itu, gue agak berteriak kegirangan setelah membaca berita di harian Kompas. Inti dari berita itu: gunung Semeru telah dibuka kembali untuk pendakian. Langsung saja gue kabarin berita itu ke Daye dan Kelik. “Woi, Semeru udah dibuka lagi neh. Berarti kita bisa dong naek ke sana?” kata gue waktu itu. Serta merta, Daye dan Kelik langsung mengecek berita yang gue maksud tadi. Tak berapa lama kemudian, mereka berdua kelihatan sumringah. “Akhirnya jadi juga kita naek ke Semeru,” kata Daye sambil tertawa.

Rencana awalnya, hanya kami bertiga—gue sendiri, Mohamad Hidayat, dan Kelik Prakosa--yang akan melakukan pendakian. Tapi, karena gue ingat ada seorang kawan—namanya Dony Tjiptonugroho, Redaktur Bahasa harian Media Indonesia--yang mau ikut bergabung, maka gue ajaklah dia. Dan akhirnya jadilah kami berempat Setelah melewati banyak diskusi, akhirnya kami berempat memutuskan berangkat ke Malang dengan menggunakan kereta api. >>readmore


Agustusan di Siang Bolong
(Oleh Intiasari D. Bajakwati)

Bulan Agustus 2005, TRUST baru aja pindah gedung dari Kebayoran ke Gondangdia. Kantor baru gw hanya berjarak sepelemparan batu dari Menara Kebon Sirih. Dimana tiap Tujuh Belasan --perkantoran di Menara Kebon Sirih selalu bikin perlombaan, nah kantor gw dapet undangan bwat ikutan acara tersebut, ada beberapa perlombaan, salah satunya tarik tambang, dan ada 2 grup, grup laki2 dan grup perempuan, karena ktr gw perempuannya nya dikit aja, akhirnya semua perempuan dibikin wajib ikutserta (saking dikitnya ga ada peserta cadangan), dan mba Rina selaku orang HRD berinisiatif ngasih kaos seragam bwat para peserta perempuan, yah maksudnya biar semangat ikut kali ya, tapi tetep aja, Boooo.. perlombangan tarik tambang, malesbanget.com ga sih. >>readmore

===========================================================

Catatan gunung gede 1
Bermula dari Gede
(Oleh: Bogi Triadi / gie_csd@yahoo.com)

Tanggal yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ya, 15 Mei 2004, tujuh awak TRUST yang beranggotakan Andireza Rohadian (Jaja), Ariyanto (Ari), Bogi Triyadi (Bogi), Bonny Dwi Firmansyah (Bontel), Budi Supriyantoro (Butor), Febry Mahimza (Febry), dan Mohammad Hidayat (Daye), melakukan pendakian ke puncak Gunung Gede.

Inilah ekspedisi pertama awak Trust ke Gunung. Ide pendakian ini bermula dari obrolan Kang Jaja dengan Ari dan Daye. Mereka bertigalah yang nampaknya mengurus izin pendakian sepekan sebelum naik ke Gunung. Gue (Bogi) adalah orang terakhir kedua yang menyatakan ikut naik ke gunung dengan ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut. Setelah itu barulah Febri. >>readmore

===========================================================

Gunung Lawu 3.265 mdpl

Terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puncak tertinggi gunung Lawu (Puncak Argo Dumilah) berada pada ketingggian 3.265 m dpl. Kompleks Gunung Lawu ini memiliki luas 400 KM2 dengan Kawah Candradimuka yang masih sering mengeluarkan uap air panas dan bau belerang. Terdapat dua buah Kawah tua di dekat puncak Gunung Lawu yakni Kawah Telaga Kuning and Kawah Telaga Lembung Selayur.

Banyak sekali tempat-tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sehingga tidak hanya anak muda, tetapi banyak orang tua yang mendaki gunung Lawu untuk berjiarah. Masyarakat Jawa percaya bahwa puncak gunung Lawu dahulunya adalah merupakan kerajaan yang pertama kali di pulau Jawa. >>readmore

===========================================================

Gunung Ciremei

Dengan ketinggian 3.078 mdpl gunung Ciremei adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Kalau anda sering berpergian ke Cirebon dan melewati jalur pantura gunung tersebut dapat terlihat dengan jelas. Ada tiga jalur untuk menuju puncak Ciremei yaitu: jalur Majalengka, jalur Palutungan dan, jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat.

Pada pendakian 15-17 Agustus 2004, kami memilih jalur Palutungan, desa terakhir yang terletak di lereng selatan Ciremei dan berada dalam pangkuan Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.>>readmore

===========================================================

Gunung Slamet

Gunung Slamet 3.432 mdpl adalah gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di pulau Jawa setelah gunung Semeru 3.676 mdpl yang terletak di Jawa Timur. Berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Di kaki gunung ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Batur Raden.

Ada tiga jalur untuk bisa sampai di puncak gunung Slamet: Jalur Guci (Kali Wadas), Batu Raden, dan Bambangan. Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki.>>readmore

===========================================================

Tersesat, Kedinginan, Kelaparan, Lalu............?
Sebuah pertanyaan tentang kematian untuk Haerul Antoni, dkk
(oleh daye iblis / penikmat suasana pegunungan)

Kebon Sirih, 13 Maret 2007.
Gunung Rinjani kembali menelan korban. Tujuh orang pendaki ditemukan tewas. Mereka ditemukan di kilometer 11 daerah Pelawangan yang memiliki ketinggian 2.639 meter. Udara dingin, kehabisan makanan dan terjebak cuaca buruk menjadi penyebab kematian Haerul Antoni dan kawan-kawan. Padahal, saat mayat-mayat mereka ditemukan, Gunung setinggi 3.726 mdpl itu dalam kondisi tertutup untuk pendakian sejak 1 Januari – 31 Maret 2007, dengan alasan sudah masuk musim penghujan dan sering terjadi badai dan longsor


Kenekadan tujuh pemuda “pemberani” itu untuk tetap mendaki Rinjani di musim bencana ini membuat saya ingin bertanya kepada mereka. Apa sih yang dicari di atas gunung sana? Apa sih yang bisa didapatkan di puncaknya sana? Atau kalian merasa malu setelah terlihat gagah dan keren dengan tas ransel di pundak, tapi tidak sampai puncak? Ah, sudahlah saya tidak mau banyak bertanya lagi tentang tujuan kalian naik gunung. Paling-paling jawaban standar yang saya terima. “Mau menyatu dengan alam, mau menikmati pemandangan alam, mau mensukuri ciptaaan Tuhan……”

Saya dan beberapa orang kawan juga pernah mendaki Rinjani pada 6 – 10 Januari 2007. Saat kami tiba di Rinjani Information Centre , saya kecewa karena saat itu gunung Rinjani sudah mulai ditutup untuk pendakian. Padahal persiapan untuk pendakian sudah saya siapkan sejak dua bulan sebelumnya. Mulai dari persiapan mental, fisik, riset, dan melengkapi peralatan pendakian. Pokoknya seluruh perlengkapan dan perbekalan saya dkk sudah layak untuk menemani kami sampai puncak Rinjani. Jadi, apapun yang terjadi saya akan tetap mendaki Rinjani, fikir saya saat itu.

Mungkin sama dengan fikiran kalian pada saat itu. Kalian tetap ngotot untuk tetap mendaki Rinjani, meski gunung Rinjani tertutup untuk pendakian. Yang jadi pertanyaan saya lagi, apakah perlengkapan amunisi pendakian kalian sudah layak saat itu? Kenapa kalian bisa kehabisan makanan? Kenapa kalian tidak bisa meminimalisir kedinginan? Kenapa kalian harus memaksa melawan cuaca buruk?

Sebelum saya berangkat ke Rinjani, seorang kawan di kantor pernah bertanya pada saya. “Ngapain juga harus susah payah naik gunung, setelah sampai puncak kemudian turun lagi, mendingan pergi ke mall?” Saya jawab "Because it is exist." Saya sok mengutip kata-kata Sir Edmund Hillary pendaki pertama Everest. Terus terang, bagi saya memang sangat sulit untuk menjawab secara gamblang pertanyaan dari seorang kawan tadi. Tapi, saya hanya bisa merasakan ketika batas kemampuan fisik saya saat mendaki sudah lemah, ada semacam mental power yang mendorong saya untuk bertahan dan terus berjuang. Jika mental power itu sudah terlewati, saya akan merasa tetap ada.

Kepada Haerul Antoni dkk yang sudah meregang nyawa di gunung Rinjani. Kalian sudah membuang rasa takut. Dan kalian sudah menjadi pahlawan untuk diri kalian sendiri. Mengapa kalian mendaki gunung? Jawabnya: "Because it is there” mengutip perkataan George Mallory, master pendaki gunung yang hilang di Himalaya.

Mengapa kalian mati di gunung? Jawabnya: “Petualang yang tewas di gunung bukanlah orang yang mencintai kematian. Yang pasti, dia tewas justru dalam usahanya untuk menghargai kehidupan ini," meminjam istilah Norman Edwin yang wafat di Gunung Aconcagua, Argentina.

Tulisan ini bukan hendak menyejajarkan nama Haerul Antoni dkk dengan Norman Edwin, terlebih dengan George Mallory. Mereka jelas berbeda. Tapi mereka punya kesamaan yaitu, mereka sama-sama meregang nyawa di atas gunung.

Selamat jalan kawan. Dan pergilah dengan tenang.


Berziarah ke Istana Ratu Jin

Sudah saatnya orang tak menjadikan Pulau Lombok sebagai tujuan wisata nomor dua setelah Bali. Apalagi, di provinsi Nusa Tenggara Barat itu berdiri angkuh kawasan wisata bereputasi internasional: Taman Nasional Gunung Rinjani. (Teks: Tim Lion Air-TRUST, Foto-foto: Imam Wahyudi)
Minggu, 7 Januari 2007, satu jam menjelang azan subuh, penduduk Desa Sembalum Lawang masih terlelap di peraduannya. Nun di kejauhan, kabut menutupi puncak Gunung Rinjani. Pos pendaftaran (pusat informasi) gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu juga terkunci rapat. Kami yang baru saja tiba dari perjalanan jauh (Jakarta-Mataram-Sembalun Lawang) segera mengamati keadaan sekeliling. Tiba-tiba, dengan setengah berteriak, salah seorang dari kami memanggil kami untuk segera membaca sebuah pengumuman yang ditempel di pintu pos. Isinya: mulai tanggal 3 Januari 2007 Gunug Rinjani tertutup untuk pendakian.

“Gawat,” sungut Dedi Setiawan, ketua tim Lion Air-TRUST. Maklum, sejak bertolak dari Jakarta, seluruh anggota tim yang terdiri dari enam orang ini sudah tidak sabar ingin menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Terletak di Pulau Lombok, gunung setinggi 3.726 m dpl (di atas permukaan laut) itu memang sangat menggoda para pencinta aktivitas di alam bebas. Tiga tahun silam, gunung yang secara administratif berada di tiga kabupaten--Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat--ini dianugerahi “World Legacy Award” (WLA). Penghargaan dari National Geographic Society dan Conservation International itu sekaligus menobatkan kawasan TNGR--luasnya 41.330 ha—sebagai kawasan yang terbaik untuk kategori destination stewardship.

Kompetisi WLA 2004 yang diikuti 100 negara tersebut dibagi dalam empat kategori: natural travel, heritage tourism, hotel dan resort, serta destination stewardship. Penganugerahan WLA sendiri dimaksudkan sebagai suatu kampanye global untuk mempromosikan pariwisata yang bertanggung jawab, baik terhadap kehidupan sosial, budaya, maupun lingkungan. Tujuan penganugerahan itu tentu saja guna melindungi kekayaan keanekaragaman budaya dan sumber daya alam.

Sulit disangkal, anugerah itulah yang semakin menguatkan rasa penasaran kami terhadap Gunung Rinjani. “Sudahlah, sekarang istirahat dulu,” kata Imam Wahyudi, anggota tim yang bertugas sebagai juru foto. “Nanti pagi saja kita pikirkan tentang bagaimana caranya supaya bisa diizinkan mendaki,” katanya lagi.

Singkat kata, semua anggota tim mulai merebahkan diri pada saung yang terletak di depan pos. Suhu 14 derajat celsius tak terlalu kami hiraukan, mengingat kondisi tubuh yang sangat letih.

Baru sekitar satu setengah jam kami terlelap, matahari sudah menunjukkan sinarnya. Deru mobil pengangkut sayuran dan suara masyarakat desa setempat yang berlalu lalang memaksa kami untuk segera melipat sleeping bag. Tak lama kemudian, seorang petugas pos menghampiri kami. Setelah berbasa-basi sejenak, ia lalu menjelaskan perihal pengumuman larangan pendakian tadi.

Cuaca buruk yang acap mengundang badai, tanah longsor, dan pohon tumbang dalam beberapa pekan terakhir menjadi landasan pelarangan itu. Beberapa hari sebelum kami meninggalkan Jakarta, Badan Meteorologi dan Geofisika memang sudah menyampaikan bahwa badai Isobel pada pekan itu akan melintasi Indonesia Bagian Tengah. “Beberapa hari lalu, gumpalan awan berwarna gelap sudah menggantung di atas kawasan ini,” ungkap seorang penduduk Desa Sembalun yang mendampingi si petugas pos.

Untungnya, larangan itu bukan harga mati. Dalam tiga hari terakhir, hujan tidak turun di kawasan TNGR. Cuaca selalu cerah. Itulah yang membuat petugas pos memberikan izin kepada kami untuk melakukan pendakian. Tapi itu pun dengan catatan: kami wajib menandatangani surat pernyataan yang intinya berbunyi “pihak TNGR tak bertanggung jawab apabila pendaki mengalami kecelakaan.” Tanpa ba-bi-bu, kami jawab dengan antusias: “Oke”.

Selanjutnya, kami membayar retribusi tanda masuk Rp 5.000 per orang. Tarif tadi untuk wisatawan lokal. Bagi wisatawan asing, harga retribusi tanda masuknya mencapai enam kali lipat. Sekadar informasi, setiap tahunnya, TNGR disambangi sekitar 5.000 orang wisatawan. Sekitar 2.000 orang di antaranya adalah wisatawan mancanegara.

Untuk mencapai puncak Rinjani, terdapat dua jalur utama yang biasa digunakan: jalur Sembalun Lawang (110 km dari Mataram) dan jalur Senaru (89 km dari Mataram). Sebenarnya, masih ada jalur alternatif lain seperti Sesaot, Bayan, atau Torean. Tapi jalur-jalur tadi jarang sekali ditempuh para pendaki. Hanya penduduk sekitar yang sering menggunakan jalur-jalur tadi untuk mencari kayu bakar dan kegiatan ritual keagamaan ke Gunung Rinjani. Kami memilih jalur Sembalun Lawang karena trek jalur ini tidak begitu panjang dan tidak terlalu curam.

Guna meringankan beban, kami menyewa dua orang porter. Tarif seorang porter adalah Rp 60.000 per hari. Selain mengangkut barang, porter tadi juga bisa bertugas sebagai pemandu, bahkan juru masak. Setelah sarapan dan packing, sekitar pukul 10 WITA kami meninggalkan kampung yang berketinggian 1.156 m dpl itu menuju pos 1. Trek menuju pos 1 di ketinggian 1.300 m dpl masih landai, dan di sana sini terbentang luas sabana. Sepanjang perjalanan, kami sering menjumpai penduduk setempat yang sedang menggembalakan sapi.

Meski menurut pedoman resmi waktu tempuh menuju pos 1 hanya satu setengah jam, faktanya kami baru mencapai tempat itu sekitar tiga jam kemudian. Boleh jadi, waktu satu setengah jam tadi diperuntukkan bagi pendaki yang menyerahkan seluruh bawaannya kepada porter. ”Kalau bule, satu orang didampingi dua porter,” kata Yusup, salah seorang porter yang mendampingi kami. Di pos seluas berukuran 2 x 2 meter, kami istirahat untuk makan siang.

Setelah tenaga pulih, kami pun melanjutkan perjalanan. Kabut cukup tebal menemani perjalanan kami. Menjelang magrib, kami pun tiba di Pada Balong (Pos III). Sebenarnya, target kami hari itu adalah menginap di Sembalun Plawangan II, yakni pos terakhir menjelang puncak. Sayang, kondisi fisik kami yang kurang tidur tampaknya ogah diajak kompromi. Apalagi, selain hari sudah mulai gelap, trek yang terbentang di muka pun cukup terjal. Tingkat kemiringannya sekitar 45 derajat.

Apa boleh buat, kami memutuskan untuk menginap di Pos III. Lokasi pos pada ketinggian 1.800 m dpl ini berada di bawah tebing yang cukup tinggi, di tepi sebuah sungai besar yang kering. Kendati suhu mencapai 12 derajat celsius, cuaca saat itu sangat bersahabat. Di langit, bulan yang masih tersisa setengah mengintip di antara hamparan bintang.

Senin, 7 Januari 2007, pukul 6 WITA, suara teriakan beberapa ekor monyet membangunkan kami. Pada pagi yang indah itu, tenda kami dikelilingi beberapa ekor monyet yang ingin mencuri makanan. Sedikit saja lengah, makanan yang ada di dalam tenda bisa-bisa berpindah tangan ke monyet-monyet itu. Hitung-hitung olahraga pagi, kami pun mengusir monyet-monyet itu dengan cara melemparkan batu tanpa mengenai tubuhnya.

Tepat pukul 10:00 WITA, setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya, yaitu Pos IV (Plawangan I). Jalur menuju lokasi itu lumayan berat. Ada sekitar sembilan bukit dengan tanjakan terjal menanti untuk didaki. Para pendaki menamai bukit itu dengan sebutan "Bukit Penderitaan”. “Di kalangan pendaki, jalur yang penuh dengan tanjakan ini popular disebut “Tanjakan Penyesalan,” kata Amak Juhedi, porter kami. “Amak” adalah sebutan bagi orang yang dituakan di suku Sasak.

Kenapa dinamai tanjakan penyesalan? Menurut Juhedi, tak sedikit pendaki yang menyesal karena tidak menyiapkan fisik yang prima untuk mendaki. “Banyak pendaki yang menyerah sampai di sini,” katanya. Padahal, kalau melewati puncak tanjakan, kita dapat melihat keindahan danau Segara Anak.

Nama danau Segara Anak diberikan lantaran airnya yang membiru bagaikan anak lautan. Bila para pendaki tiba di danau tersebut, rasa lelah akan tergantikan oleh pesona danau yang luasnya 11 juta m2 dan mempunyai kedalaman 230 meter lebih itu. Di danau itu, banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga banyak masyarakat dan pendaki yang memancing di sana. Tak jauh dari danau itu, terdapat air terjun Kokok Putih dan air panas yang sering dikunjungi orang untuk tujuan pengobatan.

Danau Segara Anak menyimpan berbagai misteri dan kekuatan gaib. Konon, itulah yang menyebabkan manusia merasa betah tinggal di sana. Masyarakat lokal percaya, di danau itu bermukim komunitas makhluk gaib dalam jumlah yang banyak. Mereka juga percaya, apabila danau itu terlihat luas, maka usia orang yang melihatnya masih panjang. Dan sebaliknya, bila danau itu kelihatan kecil, maka usia orang yang melihatnya bakal singkat. Di danau ini pula, saban tahun masyarakat setempat--baik yang beragama Hindu Bali maupun orang-orang dari suku Sasak yang beragama Islam—dua kali mengadakan upacara keagamaan.

Selepas beristirahat di Plawangan 1 (pos 4), kami melanjutkan perjalanan menuju Plawangan 2 (Pos 5). Sekitar 100 meter dari Pos 4, jalan setapak yang kami lalui terbagi menjadi dua jalur. Jalur yang lurus adalah jalur menuju Plawangan 2. Sedangkan jalur yang berbelok ke kanan adalah jalur menuju Danau Segara Anak. Dari Plawangan 1 ke Plawangan 2, waktu yang dibutuhkan kurang dari setengah jam.

Lembayung senja menyambut kami di Plawangan 2. Camping ground berada pada ketinggian 2.639 m dpl. Kami sengaja memasang tenda menghadap bibir jurang karena di bawahnya terhampar pemandangan yang sungguh indah: Danau Segara Anak serta Gunung Baru Jari.

Malam terlalu cepat merambat. Di langit, jutaan bintang seolah menunggu giliran untuk jatuh. Kendati pemandangan itu sangat sayang bila dilewatkan, keterbatasan waktu memaksa kami agar segera beristirahat. Setelah berembuk dengan kedua porter, tim memutuskan akan melakukan summit attack pada jam 2 dini hari. “Kalau kesiangan tiba di puncak, saya khawatir anginnya kencang sekali,” tutur Amak Juhedi.

Selasa, 9 Januari 2007, pukul 02:00 WITA, kami sudah siap tempur. Didahului sarapan ringan dan teh hangat yang dilanjutkan dengan memanjatkan doa, kami lantas berjalan beriringan menembus kabut dan suhu 4 derajat celsius menuju puncak.

Memasuki ketinggian 3.200 m dpl, udara dingin yang bertiup terasa menggigit. Toh kami terus mendaki medan berpasir. Dengan tenaga yang tersisa, akhirnya sampailah kami di sebuah punggungan yang agak datar dan gersang. Di sebelah kanan dan kiri hanya terdapat jurang yang seolah siap menelan pendaki yang tak berhati-hati. Di punggungan itu, kami beristirahat sejenak sambil mempersiapkan tenaga untuk melangkah ke tempat yang lebih tinggi. Di punggungan itu pula kami menikmati “istirahat yang indah”. Sebab, ketika memandang ke belakang, kami melihat Danau Segara Anak yang luas sekali. Uniknya, semakin kami berada di posisi yang lebih tinggi, danau itu terlihat semakin luas.

Mendekati puncak, tanjakan semakin terjal. Kemiringannya kurang lebih 45 derajat. Terpaan angin yang kian deras sempat menciutkan nyali kami. Di tanjakan ini, setiap dua atau tiga langkah ayunan, kaki pastilah akan mundur selangkah. Tapi, dengan hasrat yang demikian kuat, setapak demi setapak kami terus melangkah.

Tepat pukul 07.10 pagi, kami tiba di puncak Rinjani. Di Ujung kerucut gunung itulah, menurut kepercayaan masyarakat Lombok, bersemayam ratu jin bernama Dewi Rinjani (lihat: “Setelah Sang Raja Mengusir Sang Permaisuri). Dari puncak yang luasnya 3 x 7 meter itu, kami melihat hamparan pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah barat, tampak Pulau Bali dengan Gunung Agung-nya yang seolah melambai. Di sebelah timur terlihat Selat Alas dan bayang-bayang Gunung Tambora yang termasyhur. Dan pemandangan yang paling jelas, tentu saja kawah Rinjani dan Danau Segara Anak. Berukuran 650 m x 860 m, kawah kering itu terletak di sebelah utara bagian bawah (sebelah kiri puncak).

Begitulah, keindahan Lombok memang tak hanya terbatas pada gili-gili (pulau-pulau kecil) dan pantai-pantainya yang begitu menggiurkan bagi para pelancar. Ditambah dengan keberhasilan Gunung Rinjani menyabet penghargaan internasional, memang tak salah jika pulau di provinsi Nusa Tenggara Barat ini dijuluki sebagai saudara kembar Pulau Dewata.


Boks: Setelah Sang Raja Mengusir Sang Permaisuri

Masyarakat Lombok meyakini Puncak Gunung Rinjani adalah tempat bersemayamnya ratu jin: penguasa gunung Rinjani yang bernama Dewi Rinjani. Di sebelah tenggara puncak terdapat sebuah kaldera lautan debu yang dinamakan Segara Muncar. Percaya atau tidak, menurut penduduk lokal, pada saat-saat tertentu, dengan kasatmata, mereka bisa melihat istana Ratu Jin. Tapi, Anda tak perlu takut, apalagi sampai mengurungkan niat mendaki Gunung Rinjani. Sebab, makhluk halus di sana dipercaya sebagai “jin dari kalangan baik-baik”.

Alkisah, pada zaman dahulu, tidak jauh dari pelabuhan Lembar, berdirilah sebuah Kerajaan Tuan yang diperintah oleh seorang Raja yang sangat bijaksana. Namanya Datu Tuan. Ia memiliki permaisuri yang sangat cantik, Dewi Mas.

Di bawah pemerintahan Raja Datu Tuan, kerajaan berada dalam keadaan aman, damai, dan tenteram. Tahun demi tahun pun berlalu. Kendati usia pasangan itu bertambah tua, mereka belum dikarunia seorang putra. Hal itu membuat sang Raja sering kelihatan murung. Ia sangat mengkhawatirkan masa depan kerajaannya.

Hingga pada suatu hari, sang Raja meminta izin kepada sang permaisuri untuk menikah lagi. “Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dikaruniai anak yang akan menggantikan pemerintahan kelak," demikian sabdanya. Sang Permaisuri menyetujui. Baginda Datu Tuan lantas meminang seorang gadis cantik yang bernama Sunggar Tutul, putri dari Patih Aur.

Semenjak saat itu, perhatian Raja terhadap Dewi Mas berkurang. Datu Tuan lebih sering tinggal di istana istri mudanya. Raja yang terkenal adil itu telah bertindak tidak adil terhadap permaisurinya. Meskipun demikian, Dewi Mas selalu sabar. Seiring berjalannya waktu, Dewi Mas pun mengandung.

Berita tentang Dewi Mas mengandung itu tentu saja mengejutkan Sunggar Tutul. Ia khawatir, Raja akan berpaling dari dirinya dan kembali ke Dewi Mas. Sanggar Tutul pun memfitnah Dewi Mas. Kepada sang Raja, ia menyatakan bahwa kehamilan Dewi Mas diakibatkan oleh perbuatan serong dengan seseorang yang bernama Lok Deos.

Murkalah Baginda Datu Tuan. Dewi Mas lalu diusir dari istana dan dibuang ke sebuah gili. Dengan ditemani para pengiringnya, Dewi Mas tinggal di gili. Mereka membangun suatu permukiman. Dewi Mas tetap tegar dalam menempuh kehidupan menuju hari depan.

Pada suatu ketika, lewatlah sebuah kapal mendekati gili tersebut. Seperti ada suatu kekuatan gaib, sang Nakhoda kapal tersebut mengarahkan kapalnya ke gili. Dan dari kejauhan, dia melihat seorang wanita cantik yang bersinar. Nakhoda dan para awak kapal tadi kemudian berlabuh dan mampir ke pondok Dewi Mas.

Setelah dijamu, para penumpang kapal tersebut menanyakan kenapa Dewi Mas bisa tinggal di tempat tersebut, karena sepengetahuan mereka, selama ini gili itu tidak berpenghuni. Dewi Mas pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Setelah itu, Dewi Mas meminta nakhoda dan awak kapal tadi mengantarkannya ke pulau Bali. Akhirnya, Dewi Mas beserta para pengiringnya tinggal di Bali dan membangun permukiman baru.

Hari kelahiran pun tiba. Dewi Mas melahirkan dua anak kembar yang masing-masing disertai dengan keajaiban. Seorang bayi laki-laki lahir beserta sebilah keris, sedangkan bayi yang satunya lagi--berjenis kelamin perempuan—lahir beserta anak panah. Bayi yang laki-laki itu diberi nama Raden Nuna Putra Janjak, sedangkan bayi perempuan dinamakan Dewi Rinjani.

Kedua bayi itu tumbuh besar menjadi anak-anak yang lucu dan menarik. Tapi, pada suatu hari, kedua anak itu menanyakan siapakah ayah mereka, karena selama ini mereka sering diejek teman-temannya lantaran tidak punya ayah.

Karena desakan kedua anaknya, maka Dewi Mas pun membuka rahasia yang selama ini dipendamnya. Lalu meluncurlah cerita tentang ayah mereka yang sebenarnya adalah seorang Raja di Lombok bernama Datu Tuan. Tak lupa, ia pun menyampaikan bahwa dirinya dibuang ke sebuah gili karena difitnah oleh Sunggar Tutul, istri kedua Datu Tuan.

Raden Nuna Putra Janjak menjadi sangat marah. Dia memohon diri kepada ibunya agar diizinkan pergi ke Lombok untuk menemui sang ayah. Karena terus didesak, akhirnya Dewi Mas pun mengizinkan putranya berlayar ke Lombok bersama para pengiring.

Sesampainya di Lombok, Raden Nuna Putra Janjak segera masuk ke istana, tapi dihadang oleh para penjaga. Pertarungan tak terelakkan. Meskipun masih kecil, Raden Nuna Putra Janjak--dengan keris di tangan yang muncul bersamaan ketika ia lahir--sangatlah sakti dan tak tertandingi. Banyak lawan yang dibuatnya tak berdaya sehingga Baginda Datu Tuan harus turun sendiri menghadapi Raden Nuna Putra Janjak. Lewat pertarungan seru, mereka saling menghunjamkan kerisnya. Mereka berdua sama kuat, keris masing-masing tidak dapat saling melukai. Tiba-tiba terdengarlah suara gaib dari angkasa: “Hai Datu Tuan, jangan kau aniaya anak itu. Anak itu adalah anak kandungmu sendiri dari istrimu, Dewi Mas".

Setelah mendengar suara itu, Datu Tuan amat menyesal. Maka dipeluknya Raden Nuna Putra Janjak. Setelah mendengar cerita dari Raden Nuna Putra Janjak, maka Baginda Datu Tuan segera menjemput permaisuri ke Bali. Seluruh penghuni istana dan penduduk Kerajaan Tuan bersuka cita. Dewi Mas tidak menaruh dendam sama sekali kepada Sunggar Tutul. Mereka semua hidup damai dan tenteram.

Raden Nuna Putra Janjak tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang sangat tampan dan bijaksana. Baginda Datu Tuan sudah semakin tua dan akhirnya menyerahkan takhta kerajaan kepada putranya tadi.

Sesudah putranya naik takhta, Baginda Datu Tuan kemudian menyepi di gunung diiringi oleh putrinya yang bernama Dewi Rinjani. Di puncak gunung itulah baginda dan putrinya bersemedi memuja Yang Maha Kuasa.

Di puncak gunung itu, Dewi Rinjani diangkat oleh para jin dan makhluk halus menjadi ratu. Dan sejak saat itulah gunung yang tinggi di pulau Lombok ini dinamakan Gunung Rinjani.

-rinjani information centre-
Dari kiri ke kanan: Bontel, Daye, Kang Jaja, Dedi Otong, Butor, dan Imam Wahyudi. Sembalun Lawang 1.156 mdpl, Minggu pagi, 7 Januari 2007 (-foto: dok trustpala-)

-because it's there-
Kang Jaja. Banyak pelajaran tentang teknik pendakian yang bisa dipetik jika sering mendaki besamanya. (-Plawangan dua, 2.639 mdpl, Senin 8 Januari 2007 -foto: imam wahyudi-)

- tidak pernah lepas dari kamera-
Saat ide mendaki rinjani dilontarkan. Ayah dari Salman ini langsung mengacungkan jari dan berkata: "gue ikutan". Semua foto-foto perjalanan dari Jakarta, Mataram, Lombok, sampai Gunung Rinjani adalah hasil jepretannya. (Plawangan dua , 2.639 mdpl, Senin 8 Januari 2007 -foto: dedi setiawan-)

-keyakinan akan menemukan jalan-
Semangat dan keyakinannya yang tak pernah habis, akhirnya mengantarkan Dedi ke puncak rinjani, meski 50 meter lagi menjelang puncak kaki kanannya terserang keram. (Pos III Padabalong, 1.800 mdpl - foto: imam wahyudi)

-veteran yang juga danpur (komandan dapur)-
Budi Supriantoro alias butor. Lama tidak bergabung dengan pendakian-pendakian sebelumnya. Tapi, untuk pendakian kali ini, ia tidak mau dikatakan veteran lagi. Ia juga membawa seluruh perkakas pendakiannya: 2 tenda, 2 carier, 1 pisau victorinok, 1 pisau latherman, 2 jaket bulu angsa, 1 rompi bulu angsa, 2 buah senter, 1 headlamp, dan 2 raincoat waterfroof. (Senin, 8 Januari 2007, plawangan dua,2.639 mdpl -foto: imam wahyudi)

-jangan lupa bawa kaca dan cover bag-
Semua kit survival pendakian dipercayakan kepada pendaki stylis ini.(- Sembalun Lawang, 1.156 mdpl, minggu, 7 Januari 2007, -foto: imam wahyudi-)

-TRUST goes to Rinjani -
Ini adalah kali pertama pendakian di luar pulau Jawa. Musim penghujan dan larangan melakukan pendakian dari pihak TNGR tidak dihiraukan. Pantang surut langkah. (Plawangan dua, 2.639 mdpl, Senin 8 Januari 2007 -foto: imam wahyudi-)

-kabut, sengajakah engkau mewakili pikiranku-
Tanjakan penyesalan pada siang hari sering kali dituruni kabut yang pekat. (200 meter setelah Pos III Padabalong, 2.000 mdpl. Senin, 8 Januari 2007 -foto: imam wahyudi-)

-tak pernah menyesal menapak bukit penyesalan-
selepas dari pos III padabalong menderita di tanjakan penyesalan (kurang lebih 2.000 mdpl -foto: imam wahyudi-)

-manulapala in action-
Imam, Butor, Daye, dan Kang Jaja tak pernah kalah dari Balitapala (Pos III Padabalong, 1,800 mdpl, Senin pagi, 8 Januari 2007 - foto: imam wahyudi -)

-istirahat sejenak menunggu kabut hilang-
Ketika rasa lapar dan haus telah hilang, ganti rasa kantuk dan dingin menyerang. (bukit penderitaan kurang lebih pada ketinggian 2.050 mdpl, Senin 8 Januari 2007 -foto: imam wahyudi)

-malu lihat peta sesat di hutan-
Mencatat setiap peristiwa; berada di ketinggian berapa? berada dimana? Dan dilarang mendirikan bangunan di sini tanpa IMB (Plawangan satu 2.300 mdpl, Senin sore 8 Januari 2007 -foto: imam wahyudi-)

-menuju tenda di bibir tebing-
jarangnya pepohonan menyebabkan rawan longsor (plawangan dua, 2.639, senin sore, 8 januari 2007 -foto: imam wahyudi-)

- para model sedang berjalam di atas catwalk -
Siapa bilang fashion show hanya bisa diselenggarakan di kota-kota besar saja. Buktinya, fashion show juga marak di pegunungan. Lihat saja aksi ke empat model di atas ketika berjalan di catwalk pada ketinggian 1500 mdpl (POS II Rest Camp Tengengean, Senin pagi, 8 Januari 2007 - foto: imam wahyudi -)

-kebebasan memandang-
Berdiri pada ketinggian 3.726 mdpl, di puncak gunung rinjani dengan hembusan angin yang kencang membuat jantung berdetak dengan cepat dan membuat jari tangan mati rasa. Saat jari kami memegang sebatang rokokpun susah. Kawan kami, butor dengan susah payah mengarahkan kamera kearah kami yang sedang berdiri untuk memandang bumi seluas-luasnya. Dan klik..(puncak gunung rinjani di pagi hari, 9 Januari 2007)

-satu berdiri, empat jongkok-
Ngecamp terakhir. Sebelum matahari terbenam tenda harus sudah berdiri. Setelah itu istirahat yang cukup, kumpulkan stamina, makan yang banyak, dan berfikir tetap rasional. Sebab, jam 02.00 malam nanti team menuju puncak rinjani. (Senin, 8 Jauari 2007, Plawangan dua, 2.639 mdpl - foto: imam wahyudi-)

Gunung di Indonesia dan Puncak Tertinggi Dunia
JAWA: -*-Anjasmara (2.277 mdpl)-*- Argapura (3.088 mdpl)-*- Arjuno (3.339 mdpl) -*- Bromo (2.392 mdpl)-*- Bukit Tunggul (2.208 mdpl) -*- Ciremei (3.078 mdpl)-*- Cikuray (2.818 mdpl)-*- Galunggung (2.167 mdpl)-*- Gede (2.958 mdpl)-*- Guntur (2.249 mdpl)-*- Kembar I (3.052 mdpl)-*- Kembar II (3.126 mdpl)-*- Lawu (3.245 mdpl)-*- Semeru (3.676 mdpl)-*- Malabar (2.343 mdpl)-*- Masigit (2.078 mdpl) -*- Merapi (2.911 mdpl)-*- Merbabu (3.145 mdpl)-*- Pangrango (3.019 mdpl)-*- Papandayan (2.665 m)-*- Patuha (2.386 mdpl)-*- Penanggungan (1.653 mdpl)-*- Raung (3.332 mdpl), Salak (2.211 mdpl), Slamet (3.432 mdpl), Sumbing (3.336 mdpl)-*- Sundara (3.150 mdpl)-*- Tangkuban Perahu (2.084 mdpl)-*- Ungaran (2,050 mdpl)-*- Wayang (2.181 mdpl)-*- Welirang (3.156 mdpl)-*- Wilis (2.552 mdpl). SUMATRA:-*-Dempo (3159 mdpl)-*-Kerinci (3.805 mdpl)-*-Sibayak (2.212 mdpl)-*-Pesagi (2.262 mdpl)-*- Singgalang (2.877 mdpl)-*-Marapi (2,891.3 mdpl)-*-Tandikat (2438mdpl)-*-Leuser (3172 mdpl)-*- Perkison (2300 mdpl)-*- BALI: -*-Agung (3.142 mdpl), -*-NTB:-*-Rinjani (3.726 mdpl), NTT: Tambora (2.850 mdpl)-*- 14 PUNCAK GUNUNG TERTINGGI DUNIA: -*-Everest (8.848 mdpl)-*- K2 (8.611m)-*- Kangchenjunga (8.586) -*- Lhotse (8.516 mdpl)-*- Makalu (8.463 mdpl) -*- Dhaulagiri (8.167 mdpl) -*- Manaslu (8.091) -*- Cho Oyu (8.201 mdpl) -*- Nanga Parbat (8.125 mdpl) -*- Annapurna -*- (8.091 mdpl) -*- Gasherbrum I (8.068 mdpl) -*- BRoad Peak (8.047 mdpl) -*- Shisha Pangma (8.046 mdpl) -*- Gasherbrum II mdpl)-*-